Saturday, February 7, 2009

The Best Way to Treat Acne - Without Using Any Creams Or Medication

If you suffer from Acne you know what an annoying condition it is. Acne's target is young adolescents and teenagers which are more prone to suffer from acne due to their social status.
If you have acne and had to deal with it yourself, you most probably now how difficult it is to get rid of it. You might have tried numerous amounts of different products, ranging from pills to creams, but to no avail.

This happens because the education in how to treat acne revolves around these different types of medication, without talking too much about the most elementary things to do in order to treat the problem.

What are the elementary factors then?

Keep Skin Clean

It is of utmost importance to keep your skin clean. It does not mean that a dirty face causes acne because it is the bacteria inside the skin that starts acne.

Cleaning you skin regularly will not cure acne but will help it stop from spreading on the rest of your skin and reducing the chances of becoming more severe.

It is advisable to wash skin thoroughly even if you are using ant-acne cream.

Right Choice of Food

The market is full of products helping you out in reducing the amount of sebum produced by sebaceous glands. Using these treatments alone will not help you ease the problem. Consider eating food containing Vitamin A and B.

Foods containing a lot of Vitamin A like spinach, sweet potatoes, apricots and carrots and Vitamin B, like vegetables, cereals, sweet corn, rice and berries help in regulating your hormones and sebum production.

Avoiding Over Production of hormones

Increase in the production of hormones will encourage acne growth. If you are under stress because of work, school or social problems you might need some form of relaxation to help you out.

Any sort of exercise like yoga or walking will help ease your stress and eventually your acne.
It is of utmost importance to avoid food and drinks that increase hormonal increase. This type of food includes caffeine, dairy products, carbohydrates and meat eventually produce toxins that will need to get out through your skin. When their path is blocked with a hair follicle toxins build up and together with sebum trigger acne.

It is a fact that most of the acne treatments that we try will not stop it completely.

Source : http://treating-acne-naturally.blogspot.com

Friday, January 30, 2009

Keluarnya Sel Telur Dari Ovarium Seorang Wanita

UNTUK pertama kalinya dalam sejarah para ahli di Belgia belum lama ini berhasil merekam dengan sangat jelas proses awal pada reproduksi manusia, yakni keluarnya sel telur dari ovarium seorang wanita.

Adalah ginekolog Dr Jacques Donnez dari Universitas Katolik Louvain (UCL) di Brussels yang berhasil merekam proses pelepasan oosit dari ovarium ketika ia sedang melakukan operasi histerektomi atau pengangkatan kandungan (rahim, uterus) seorang wanita. Gambar-gambar yang menakjubkan ini juga dipublikasikan dalam majalah New Scientist.

Secara alami, wanita normal mengeluarkan satu hingga beberapa sel telur setiap bulan ketika memasuki masa-masa subur. Namun begitu, sejauh ini belum ada ahli yang mampu merekam secara jelas dan detail momen-momen keluarnya sel telur manusi dari organ wanita.


Sel telur dalam gambar tersebut adalah milik seorang perempuan berusia 45 tahun asal Belgia.

Sel telur dihasilkan oleh folikel-folikel, kantung-kantung berisi cairan, di bagian dalam ovarium yang pada masa ovulasi akan mengeluarkan benjolan (protrusi) kecil berwarna kemerahan yang terlihat dalam gambar. Telur-telur akan muncul pada ujung benjolan tersebut dengan bentuk sel-sel yang mirip jeli. Setelah keluar dan lepas dari benjolan tersebut, sel-sel kemudian akan berkelana menuju tuba falopi di mana nantinya akan dibuahi oleh sel sperma dari seorang pria.

Sel telur dalam gambar tersebut adalah milik seorang perempuan berusia 45 tahun asal Belgia. Donnez mengatakan, beberapa teori mengindikasikan bahwa pelepasan sel telur dalam ovarium bersifat "eksplosif", namun apa yang direkamnya ini berlangsung sekitar 15 menit.

Sunday, January 25, 2009

Makanan Apa Yang Harus Di Hindari Selama Kehamilan???

Banyak pertanyaan dikalangan ibu hamil tentang makanan apa saja yang boleh dan yang sebaiknya dihindari selama masa kehamilan, dan kenapa?.....

Ada beberapa jenis makanan yang sebaiknya dihindari selama kehamilan karena mereka dapat menyebabkan infeksi-infeksi seperti; salmonella,toksoplasmosis,listeria, E.coli, yang dapat membahayakan bayi dalam kandungan anda.

  • Jangan makan daging mentah (sushi) atau yang dimasak kurang matang, karena mengandung Toksoplasmosis sebuah parasit yang dapat menyebabkan infeksi serius pada janin anda dan juga E.coli, yang berbahaya bagi ibu hamil dan janin.
  • Toksoplasmosis terdapat pada sayuran yang tidak dicuci dengan baik, oleh karena itu bersihkan sayuran anda dengan baik, apalagi untuk salad atau lalapan yang dimakan mentah. Hindari juga kotoran kucing atau bermain-main dengan kucing selama kehamilan karena mengandung toksoplasmosis.
  • Jangan makan daging ayam dan telur yang dimasak kurang matang atau mentah , hindari makan hati ayam/daging yang mungkin sumber dari salmonella, yang dapat menyebabkan diare yang berat pada ibu hamil. Juga diperhatikan piring, alat-alat masakan yang terkena daging ayam mentah ini untuk dicuci.
  • Ikan tuna steak, ikan sea bass, shark, atau ikan-ikan berukuran besar yang diketahui mengandung tingkat mercuri yang tinggi yang dapat menyebabkan kerusakan saraf jika dimakan dalam jumlah besar. FDA rekomendasi ikan tuna dan ikan ukuran besar ini sebatas 12 ons perminggu
  • Keju lunak seperti brie dan camembert, blueveined cheese juga keju dari susu kambing dan domba, serta jangan minum susu yang tidak di pasteurisasi. Semua produk ini mempunyai resiko membawa listeria. Listeria tipe bakteri yang mampu menembus plasenta dan menyebabkan infeksi janin, pada dewasa tidak ada gejala atau seperti flu. Listeria dapat menyebabkan keguguran,kelahiran premature, dan keracunan dalam darah. Sebaiknya hindari makanan jenis ini sampai melahirkan bayi anda.
  • Jangan minum yang mengandung alcohol dapat menyebabkan kelainan perkembangan pada janin ada juga problem emosional pada bayi.
  • Minuman yang mengandung cafein seperti kopi, teh sebaiknya di hindari atau dibatasi karena kopi dapat memperngaruhi berat badan rendah pada bayi, keguguran dan juga cafein mengurangi penyerapan zat besi.

Ingatlah perkembangan bayi dalam kandungan anda tergantung dari apa yang anda makan selama kehamilan.

sumber : www.infoibu.com

Tuesday, January 20, 2009

Bugar dan Sehat Saat Hamil Tanpa Anemia

Bagi pasangan yang sudah lama mendambakan momongan maka akan merasa bahagia apabila sang istri mendapat kehamilan. Tetapi seringkali kebahagiaan itu tidak tercermin pada raut muka sang calon ibu yang tampak pucat, lemah dan lesu. Kondisi tersebut sering kali dianggap hal yang wajar, bahkan ada yang beranggapan hal tersebut merupakan bawaan dari sang bayi. Banyak dari wanita hamil tersebut yang tidak menyadari kalau ternyata dirinya mengalami kurang darah atau anemia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 7-8 wanita dari 10 wanita hamil menderita anemia. Kemudian karena konsekwensinya yang tidak ringan seperti pendarahan saat melahirkan dan melahirkan secara prematur, maka sangat penting bagi calon ibu untuk menjaga kesehatannya atau mendapat pengobatan agar terlepas dari anemia.

5L Pada Wanita Hamil, Normalkah?

5L (lesu, lemah, letih, lelah, dan lunglai) merupakan gejala anemia yang sering diabaikan oleh calon ibu. Pada trisemester pertama sebagian besar wanita hamil akan mengalami mual dan muntah yang disinyalir dapat menyebabkan calon ibu tampak lemah dan lesu. Kalaupun pada trisemester pertama ini hilangnya darah menstruasi tidak terjadi tetapi kebutuhan zat pembentukan darah terutama zat besi cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya usia kehamilan.

Bila mual dan muntah sudah hilang, tetapi calon ibu cenderung tetap mengalami 5L, maka hal ini bukanlah hal yang normal dan perlu penanganan yang serius. Penting bagi calon ibu untuk terhindar dari anemia supaya bisa menghindari terjadinya kelahiran prematur hingga pendarahan berlebihan pada persalinan yang dapat mengancam nyawa ibu dan bayinya hingga 70%. Dengan tidak adanya anemia, calon ibu akan tampak bugar dan sehat sehingga dapat menjalankan aktivitas kesehariannya dengan baik.

Gejala dan Diagnosa Anemia pada Wanita Hamil

Sesuai kodratnya wanita lebih banyak membutuhkan zat besi baik saat hamil maupun tidak dibandingkan pria.Pada wanita yang mengalami menstruasi akan kehilangan zat besi dua kali lipat dibandingkan pria yaitu sekitar 2,4 mg perhari, padahal porsi makan wanita cenderung lebih sedikit dibanding pria. Akibatnya bahkan sebelum hamil pun kebanyakan wanita sudah mengalami anemia, ditambah dengan kehamilan akan memperparah anemia.

Pada trisemester kedua dan seterusnya kebutuhan zat pembentuk darah terutama zat besi meningkat tajam hingga dua kali lipat dibandingkan saat tidak hamil. Keadaan ini disebabkan volume darah ibu meningkat karena kebutuhan janin akan oksigen dan zat gizi yang dibawa oleh sel darah merah. Kemudian saat melahirkan sudah tentu akan terjadi pendarahan yang memerlukan penggantian darah secepatnya.

Sayangnya gejala 5L baru muncul begitu anemia dalam tingkat yang lanjut. Berikut adalah tingkatan anemia :

  1. Stadium 1

Kehilangan zat besi melebihi asupannya, sehingga menghabiskan cadangan dalam tubuh, terutama di sumsum tulang. Kadar ferritin (protein yang menampung zat besi) dalam darah berkurang secara progresif.

  1. Stadium 2

Cadangan besi yang telah berkurang tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk pembentukan sel darah merah, sehingga sel darah merah yang dihasilkan jumlahnya lebih sedikit.

  1. Stadium 3

Mulai terjadi anemia. Pada awal stadium ini, sel darah merah tampak normal, tetapi jumlahnya lebih sedikit. Kadar hemoglobin dan hematokrit menurun.

  1. Stadium 4

Sumsum tulang berusaha untuk menggantikan kekurangan zat besi dengan mempercepat pembelahan sel dan menghasilkan sel darah merah dengan ukuran yang sangat kecil (mikrositik), yang khas untuk anemia karena kekurangan zat besi.

  1. Stadium 5

Dengan semakin memburuknya kekurangan zat besi dan anemia, maka akan timbul gejala-gejala karena kekurangan zat besi dan gejala-gejala karena anemia semakin memburuk.

Anemia sendiri merupakan kondisi dimana kadar hemoglobin (Hb) seseorang kurang dari 10g/dl. Sementara angka idealnya untuk wanita dewasa berdasarkan standar WHO adalah 12g/dl. Artinya, seorang wanita dewasa, baik yang sedang hamil maupun tidak, akan didiagnosa mengalami anemia jika kadar Hb-nya di bawah 12g/dl. Tetapi munculnya gejala sangatlah individual, bisa jadi orang dengan Hb 10g/dl masih beraktivitas normal dan energik sedangkan yang lain nampak letih dan lesu.

Untuk mendiagnosa anemia perlu pemeriksaan darah, biasanya yang diperiksa adalah kadar zat besi. Atau mengukur kadar transferin (protein pengangkut zat besi yang berada diluar sel darah merah) dan kadar ferritin (protein yang menampung zat besi).

Akibat Anemia pada Janin dan Calon Ibu

WHO menyatakan bahwa anemia merupakan penyebab penting dari kematian ibu saat hamil ataupun melahirkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase kematian ibu saat melahirkan akibat anemia adalah 70% dan sekitar 19,7% akibat hal lain. Anemia pada kehamilan juga berhubungan dengan meningkatnya angka kesakitan ibu saat melahirkan.

Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan, seperti meningkatkan resiko terjadinya kematian janin di dalam kandungan, melahirkan secara prematur, atau bayi lahir dengan berat badan rendah, dan juga angka kematian bayi setelah dilahirkan Di samping itu, perdarahan sebelum dan setelah melahirkan lebih sering dijumpai pada wanita yang anemia dan hal ini dapat berakibat fatal, sebab wanita yang anemia tidak dapat mentolerir kehilangan darah.

Pencegahan dan Penanganan Anemia pada Wanita Hamil

Mengkonsumsi makanan yang bergizi adalah hal yang penting tetapi terkadang hal ini tidak cukup. Oleh karenanya sudah menjadi hal umum bila wanita hamil selalu diberi suplemen tambahan yang mengandung zat besi oleh dokter. Selain itu pengaturan usia ibu saat hamil ataupun jarak antara kehamilan juga merupakan hal yang penting, karena dari hasil penelitian menunjukkan saat terbaik bagi wanita untuk terjadi kehamilan adalah pada usia antara 20 hingga 35 tahun. Karena apabila hamil pada usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun akan meningkatkan resiko terjadinya anemia.bagi calon ibu.

Untuk Ibu yang mengalami kehamilan lebih dari 4 kali juga dapat meningkatkan resiko untuk mengalami anemia demikian juga apabila jarak antara dua kehamilan kurang dari 2 tahun dapat juga meningkatkan resiko terjadinya anemia.
sumber : www.medicastore.com
Add to Google Add to My Yahoo! Add to My AOL Add this Content to Your Site